KARAKTERISTIK DAN RAGAM MANFAAT TANAMAN PINUS

Pohon pinus (Pinus merkusii) telah lama ditanam di berbagai tempat di Indonesia sebagai tanaman reboisasi. Sebagai tanaman pionir yang dapat tumbuh di berbagai kondisi dan produk utamanya sebagai penghasil getah, pinus banyak ditanam oleh Perum Perhutani di Pulau Jawa. Hutan pinus telah banyak dikembangkan di Pulau Jawa sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda. Hampir semua bagian pohon pinus dapat digunakan, antara lain bagian batangnya dapat disadap untuk diambil getahnya. Chanan (2009), menjelaskan bahwa pohon pinus memiliki manfaat baik dari segi ekonomi, sosial, dan ekologi. Manfaat dari segi ekonomi yaitu getah pinus mampu menjadi sumber komoditi perdagangan yang menguntungkan, cukup banyak menyerap tenaga kerja setempat, dan penghasil bahan industri. Manfaat dari segi sosial yaitu dapat memberikan dampak langsung dari manfaat ekonomi dari hutan pinus yang dimanfaatkan secara baik dapat memperbaiki penghidupan masyarakat di sekitarnya. Sedangkan dari segi ekologis pinus merupakan jenis kayu yang mampu membentuk penutupan vegetasi permanen bersama jenis-jenis tumbuhan lain, sehingga fungsi hidrologi dan konservasi tanah dapat tercapai. Rahayu dan Mutaqin (2012) menambahkan, beberapa keuntungan yang didapatkan dari tanaman pinus antara lain, yaitu pertumbuhan relatif cepat, tidak memerlukan tempat tumbuh dengan syarat tertentu, dapat tumbuh mulai 200-2000 m dpl, dan perakaran cukup kuat dan cukup dalam hingga dapat mencegah atau mengurangi bahaya erosi pada tanah kritis. Tanaman ini pada awalnya digunakan sebagai tanaman reboisasi dan penghijauan karena pertumbuhannya yang cepat serta merupakan jenis tanaman pionir (Cahyono et al. 2007).

Hutan pinus merupakan jenis hutan dengan tanaman yang bersifat homogen. Pohon pinus sendiri hanya dapat hidup di daerah yang mempunyai kondisi iklim yang sedang. Tanaman pinus memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan dan keperluan industri. Manfaat tanaman pinus dari aspek kesehatan antara lain, mengandung Flavanoid dan Vitamin C. Pada tahun 1940-an peneliti Prancis menemukan bahwa kulit pohon pinus dan daun jarumnya mengandung banyak vitamin C. Tak hanya itu, mereka juga menemukan bahwa pohon pinus kaya akan antioksidan, yaitu flavonol dan bioflavonoid. Senyawa ini kemudian diekstraksi menjadi Pycnogenol dan dipasarkan menjadi suplemen diet. Pycnogenol juga digunakan sebagai obat jet lag, meringankan peredaran darah, nyeri lutut, kram menstruasi, bahkan obat untuk meningkatkan memori pada orang lanjut usia. Sedangkan dari manfaat industri, tanaman pinus disadap untuk menghasilkan getah pinus (oleoresin). Getah pinus yang disadap tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan gondorukem dan terpentin yang merupakan bahan baku industri lanjutan. Gondorukem digunakan sebagai bahan baku dalam industri kertas, keramik, plastik, cat, batik, tinta cetak, politur, farmasi, dan kosmetik. Sementara itu, terpentin dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamper, dan farmasi. Selain getahnya, bagian lain yang dimanfaatkan dari pohon pinus untuk keperluan industri adalah kayunya yang digunakan untuk konstruksi ringan, mebel, pulp, korek api dan sumpit. Tak hanya kayunya, bunga pinus juga kini telah banyak diolah menjadi berbagai macam kerajinan seperti rangkaian bunga untuk dekorasi pesta, bingkai foto, dan beragam kerajinan lainnya yang punya daya jual yang cukup menguntungkan.

Referensi :

Cahyono SA, Nugroho NP, Indrajaya Y. 2007. Alokasi pengeluaran rumah tangga penyadap getah pinus di Desa Somagede, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Kehutanan. 1 (1) : 24-30.

Chanan M. 2009. Respon perkecambahan benih dan pertumbuhan semai pinus (Pinus merkusii Jung et de Vriese) dengan aplikasi konsentrasi dan lama perendaman larutan abitonik. Jurnal Gamma. 5(1).

Rahayu N, Mutaqin T. 2012. Kajian konsentrasi larutan effektive mikroorganisme-4 (EM4)dan macam media tanam terhadap pertumbuhan semai pinus (Pinus merkusii Jungh et de. Vriese). Jurnal Gamma. 7 (2).

 

Penulis: Novandi Aldi Sadewa
Editor : Nadia Salsabila Candra Kerti