Burung Isap Madu Rote, Maskot Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2019

Posted on Posted in Kehutanan Umum

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) diperingati setiap tanggal 5 November. Pada tiap peringatannya mengangkat ikon tumbuhan dan satwa nusantara.

HCPSN 2019 mengangkat Burung Isap Madu Rote dan Pohon Saninten (Castanopsis argentea) sebagai maskotnya.

Mari kita bahas satwanya, burung isap madu. Pemilik nama ilmiah: Myzomela irianawidodoe ini adalah burung pengisap madu yang belum lama ditemukan oleh peneliti biologi LIPI. Ya.. Okober 2017 lalu tim peneliti mengumumkan temuan spesies baru ini dari Pulau Rote, Nusa Tengara Timur.

Melihat namanya, rasanya tidak asing. Pemberian nama Ibu Negara atas burung ini sebagai wujud penghargaan kepada Iriana Joko Widodo, yang dinilai sangat memperhatikan kehidupan burung.

Selain itu, burung isap madu rote juga lebih dikenal dengan nama latin: Myzomela rote. Penampilannya cukup menarik dengan warna merah tua pada kepala. Dengan paduan hitam pada tubuh bagian atas, sayap, dan ekor menambah karismatik tampilannya. Tak hanya itu, paruhnya berwarna hitam. Kaki dan jarinya berwarna hitam dengan bantalan kuku berwarna kuning. Tubuh bagian bawah berwarna zaitun. Iris matanya coklat gelap.

Ukurannya cukup mungil. Panjang paruh 1,79 cm. Bentangan sayap 17,2 cm, dan panjang sayap 5,8 cm. Panjang ekor 3,7 cm dengan tinggi kaki 1,67 cm, seperti dikutip dari laman LIPI.

Habitat burung kecil berukuran panjang tubuh 11,8 cm ini di hutan, semak-semak, kebun, dan pohon yang sedang berbuah. Ia juga menyukai serangga kecil seperti laba-laba.

Mengapa burung bersuara merdu saat terbang ini tidak masuk family Nectarinidae? Padahal secara fisik serta menyukai nektar dan serangga. Laman Rumah Kolibri melangsir bahwa burung ini tak bisa masuk Nectarinidae karena perilaku mereka berbeda. Salah satu contohnya dari perilaku membuat sarang. Burung madu membuat sarang berbentuk kantung yang menggantung. Perilaku Myzomela sendiri membuat sarang seperti mangkuk layaknya burung lain.

Burung iriana ini masuk dalam keluarga Meliphagidae di mana semua jenisnya merupakan burung dilindungi. Ancaman burung ini cukup tinggi, karenanya para peneliti merekomendasikan agar IUCN (Badan Konservasi Dunia) agar memasukkannya dalam kategori rentan/ vurnerable.

Burung dengan bobot sekitar 32,23 gram ini sangat terancam di habitat alaminya. Kerusakan habitat dan alih fungsi lahan menjadi ancaman serius keberadaannya. Lebih terancam lagi karena Pulau Rote yang tak begitu luas dan tidak terdapat kawasan lindung.

Ayo kita kenali puspa dan satwa tanah air biar kita lebih kita makin mencintai keanekaragaman hayati Indonesia.

Sumber : http://www.menlhk.go.id/site/single_post/2489

LineGoogle GmailWhatsAppGoogle+FacebookTwitterEmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *