Hari Bhakti Rimbawan

Posted on Posted in Kehutanan Umum

bakti rimbawan

Tepat pada hari ini, 16 Maret 2019, kita bersama-sama memperingati Hari Bhakti Rimbawan. Awal mula diperingatinya hari Bhakti Rimbawan bermula lahirnya Departemen Kehutanan dari pemekeran Departemen Pertanian pada 16 Maret 1983, yang berarti telah 36 tahun Hari Bhakti Rimbawan diperingati. Banyak kebijakan silih berganti mewarnai pembangunan kehutanan Indonesia agar tetap lestari serta dapat memakmurkan bangsa Indonesia. Lahirnya Departemen Kehutanan tidaklah semata-mata amanah UU Nomor 5 Tahun 1967 yang mengamanatkan hutan harus dirawat sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, tetapi lebih dari itu. Situasi pada saat itu memungkinkan bahwa adanya pembangunan harus diimbangi dengan pelestarian lingkungan hidup, tatanan ekosistem haruslah seimbang agar kehidupan kita senantiasa berjalan baik kedepannya.

Adanya Hari Bhakti Rimbawan, senantiasa sebagai pengingat kita akan tanggungjawab yang kita miliki bersama terhadap kehutanan. Memang benar adanya slogan “hutan adalah jantung dunia”, kita sebagai makhluk hidup yang sempurna dibanding makhluk hidup lainnya, sewajibnya lebih dalam usaha menjaga, merawat hutan, tidak hanya untuk kita, akan tetapi untuk se-isi dunia ini. Tidak hanya manusia yang hidup di dunia ini, flora, fauna serta ragam makhuk lain pun membutuhkan adanya hutan sebagai tempat hidup alami mereka.

Semakin hari hutan semakin tergerus karena akan kebutuhan manusia yang tidak ada habis-habisnya. Hal tersebut menunjukan bahwa laju deforestasi (penggundulan hutan) semakin meningkat. Data laju deforestasi yang disampaikan oleh Kementrian Kehutanan pada penutupan lahan tahun 2017 (periode Juli 2016-Juni 2017), deforestasi nasional seluas 479 ribu ha, dengan rincian di dalam Kawasan hutan seluas 308 ribu ha, dan di Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 171 ribu ha. Berdasarkan data tersebut bisa dikatakan bahwa laju deforestasi menurun disbanding tahun sebelumnya, mencapai 630 ribu ha.

Kita tidak bisa tamak tanpa memikirkan makhluk hidup lain, kita hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama, mendapatkan sumber pangan yang sama, maka dari itu kita bersama-sama melestarikan hutan.

Sumber :

ppid.menlhk.go.id/siaran_pers/browse/1025

LineGoogle GmailWhatsAppGoogle+FacebookTwitterEmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *