Pengaruh Agroforestry dalam Rehabilitasi Lahan Kritis Suatu Daerah Aliran Sungai (DAS)

Posted on Posted in FMSC NEWS, Kehutanan Umum

WhatsApp Image 2019-03-10 at 9.11.15 PM

 

Agroforestry merupakan sistem pengelolaan tanaman hutan yang terkombinasi dengan pertanian (termasuk di dalamnya peternakan, pohon-pohonan dll) dalam suatu lahan tertentu (Widiyanto 2016). Sebenarnya banyak yang mendefinisikan agroforestry itu sendiri. Namun dari seluruh pengertian tersebut akan mengarah ada kelestarian dan pemanfaatan suatu kawasan yang berisikan bermacam-macam usaha atau kegiatan yang dilangsungkan dalam suatu hamparan lahan yang sama. Agro yang berarti pertanian, dan forestry yang berarti kehutanan. Kedua unsur tersebut menjadi dasar terbentuknya agroforestry dalam suatu kawasan yang tidak terlalu luas, sehingga pemanfaatannya harus maksimal. Di Indonesia, agroforestry sendiri sudah dimulai dari berabad-abad yang lalu. Istilah agroforestry sendiri akan berbeda disetiap daerah, misalnya di Maluku disebut Dusung.

rindos

Sumber gambar: www.sae.ethz.ch

Agroforestry mempunyai peranan penting dalam menjaga dan memperbaiki lahan kritis pada suatu kawasan tertentu karena bertujuan untuk memanfaatkan sumberdaya lahan dan hutan semaksimal mungkin. Jenis atau tipe agroforestry pun bermacam-macam, seperti Agrosilvikultur, Silvopastoral, Agrosilvopastoral, Silvofishery, Apiculture dan Sericulture (Njurumana 2008). Tentunya, dalam pengeloaan tersebut akan memperhatikan dampak lingkungan serta peningkatan mutu suatu tanah agar didapatkan hasil yang maksimal. Penerapan agroforestry akan menurunkan laju erosi tanah karena adanya tajuk pohon yang mengurangi energi kinetik air hujan. Selain itu, agroforestry merupakan salah satu upaya konservasi dan rehabilitasi lahan.

Perubahan tutupan lahan menjadi pemicu utama dan masalah yang menyebabkan banyaknya lahan rusak atau kritis. Kerusakan-kerusakan tersebut dipicu dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat sekitar hutan, pembukaan wilayah hutan tidak sesuai SOP, pembangunan kawasan industri, perkebunan kelapa sawit dan lain-lain. Segala kerusakan tersebut akan berpengaruh terhadap lingkungan dan juga menyangkut kelestarian suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) sehingga perlu dilakukannya upaya rehabilitasi lahan kristis tersebut. Menurut Afrizon (2006) rehabilitasi merupakan upaya memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar fungsi utamanya dapat berjalan optimal seperti semula.

Kegiatan agroforestry memanfaatkan lahan yang sedikit untuk dijadikan berbagai macam kegiatan dan usaha sehingga dapat menjadi solusi alternatif untuk memperbaiki masalah rehabilitasi lahan. Peningkatan mutu dan sumberdaya lahan akan semakin optimal dan tidak perlu membuka wilayah hutan untuk dijadikan lahan pertanian. Selain itu, jika dilihat dari fungsi ekonomi, maka keuntungan yang didapatkan akan semakin besar karena usaha dan kegiatan dapat dilakukan sekaligus tanpa takut dengan lahan yang minim. Sehingga, kegiatan agroforestry sebaiknya diterapkan di Indonesia yang lahan-lahannya sudah kritis dan perlu rehabilitasi.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Afrizon M. 2006. Pengelolaan agroekosistem lahan kering dataran rendah. Jurnal Lingkungan Hidup 10(2): 45-53.

Njurumana GND. 2008. Rehabilitasi lahan kritis berbasis agrosilvopastur di Timor dan Sumba, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Info Hutan 5(2): 99-112.

Widiyanto A. 2016. Agroforestry dan peranannya dalam mempertahankan fungsi hidrologi dan konservasi. Forestry Research and Development Agency 5(3): 43-56.

 

Penulis : Rindos Sinaga (E14160069)

Editor   : Hamzah Nur Ahmad (E14150020)

Google+Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *