Lahan Basah Gambut Untuk Kemakmuran Bangsa

Posted on Posted in Kehutanan Umum

Lahan basahApa lahan basah itu ? Lahan basah merupakan wilayah daratan yang digenangi air atau memiliki kandungan air yang tinggi, baik permanen maupun musiman. Ekosistemnya mencakup rawa, danau, sungai, hutan mangrove, hutan gambut, hutan banjir, limpasan banjir, pesisir, sawah, hingga terumbu karang. Lahan ini bisa ada di perairan tawar, payau maupun asin, proses pembentukannya bisa alami maupun buatan.

Lahan basah memiliki peran penting dalam kehidupan umat manusia. Ekosistemnya menyediakan air bersih, keanekaragaman hayati, pangan, berbagai material, mengendalikan banjir, menyimpan cadangan air tanah, dan mitigasi perubahan iklim. Lahan jenis ini juga menjadi habitat sejumlah besar tumbuhan dan satwa, relatif lebih banyak dibanding jenis ekosistem lain, kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari.

Lahan basah yang berada di Indonesia contohnya adalah lahan gambut. Apa itu gambut? Gambut ialah jenis tanah organik yang terbentuk dari bagian vegetasi yang telah terurai dan terendam air selama berabad lamanya. Gambut ada di planet ini sekitar 360 juta tahun. Beberapa lahan gambut yang kini ada bahkan memerlukan lebih dari 10.000 tahun untuk terbentuk.

Mengapa lahan gambut penting?

Jutaan manusia di seluruh dunia yang bergantung  pada lahan gambut untuk penghidupan mereka  yang seringkali melakukan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan. Padahal lahan gambut yang subur dapat menjadi sumber makanan, air bersih, dan menyediakan manfaat lainnya bagi masyarakat sekitar. Gambut juga bermanfaat untuk mencegah kekeringan, banjir dan pencampuran air asin untuk irigasi di area pertanian. Lahan gambut penting bagi keragaman hayati karena merupakan rumah bagi jenis langka seperti orangutan dan harimau Sumatera.

Lahan gambut memegang peranan penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.  Walaupun jumlah lahan gambut hanya sekitar 3-5% di permukaan bumi, namun keberadaannya  merupakan rumah bagi lebih dari 30% cadangan  karbon dunia yang tersimpan di tanah.  Diperkirakan lahan gambut menyimpan karbon dua kali lebih banyak dari hutan di seluruh dunia, dan empat kali dari yang ada di atmosfer. Lahan gambut di wilayah tropis menyimpan karbon yang paling banyak.

Ketika gambut terbakar, maka sejumlah besar karbon dioksida dan gas-gas lain terlepas ke atmosfer. Inilah yang berkontribusi terhadap perubahan iklim dan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Peneliti menemukan bahwa kebakaran hutan di Indonesia selama September dan Oktober 2015 telah melepas sekitar 11,3 juta ton karbon dioksida setiap harinya, suatu angka yang melebihi dari angka emisi karbon harian yang dihasilkan oleh seluruh  Uni Eropa untuk periode yang sama. Menurut Badan Lingkungan PBB, kurang dari 0,4% dari permukaan bumi terdiri dari lahan gambut kering atau terdegradasi, namun dari jumlah yang sedikit ini telah berkontribusi sebanyak 5% terhadap emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.

Penulis : Annisa Fatmawati

Referensi

https://www.cifor.org/library/6476/

LineGoogle GmailWhatsAppGoogle+FacebookTwitterEmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *