Mama Aleta Baun, Pahlawan Lingkungan yang Menjaga Bumi NTT Lewat Kain Tenun

Posted on Posted in Kehutanan Umum

mama aleta
Sebagian besar masyarakat Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, percaya leluhur mereka berasal dari batu, kayu, dan air. Batu, hutan, dan air menjadi simbol marga dan martabat bagi warga setempat. Karena itu, mereka terusik ketika wilayahnya terancam akibat penambangan. Salah satu masyarakat Mollo yang berdiri di garda terdepan adalah Aleta Baun atau sering dipanggil Mama Aleta. Marga Baun sendiri diambil dari unsur air.
Sejak kecil, Aleta diajarkan leluhurnya bahwa alam mengandung nyawa sehingga harus dilindungi. Mereka mengibaratkan alam seperti manusia. Tanah dilambangkan sebagai daging, air sebagai darah, batu sebagai tulang, dan hutan sebagai nadi dan rambut. Karena itu, Aleta marah ketika alam sekitarnya terancam.
Perjuangan Mama Aleta dimulai pada 1994. Ketika itu pemerintah mengizinkan sebuah perusahaan melakukan penambangan di daerah sekitar Gunung Batu Anjaf dan Nausus. Jumlah perusahaan yang menambang pun bertambah di kemudian hari. Tidak hanya menambang, perusahaan-perusahaan tersebut membuka jalan menuju gunung batu. Cara mereka, membabat hutan. Dampaknya buruk. Hutan kasuari yang dulunya hijau berubah kering kerontang. Sumber mata air pun berkurang.
Melihat lingkungan sekitar mereka rusak, Aleta bersama tetua adat di sana, Piter Oematan, bergerak. Demonstrasi menentang pertambangan dilakukan. Aleta dan Piter menggalang dukungan untuk menolak penambangan marmer masuk ke wilayah tersebut. Setiap desa mereka datangi. Mulai Desa Fatukoto, Lelobatan, Leloboko, Ajobaki, dan Bijaenupu.
Tapi perjuangan Aleta tidak mudah. Warga setempat tidak mudah dibujuk. Dia harus berusaha keras menyadarkan masyarakat tentang pentingnya lingkungan hidup dan ancaman penambangan batu marmer di kawasan sekitar. Rintangan tidak hanya itu. Atasan Aleta yang berpihak pada perusahaan penambang di Sanggar Suara Perempuan menentang aksinya.
Akibat larangan tersebut, Aleta menyusun strategi perjuangan lain. Pada 1999, dia mulai bergerilya menjalin dukungan. Para tokoh adat ditemui dan dibujuknya pada malam hari. Lamat-lamat perjuangan Aleta berbuah hasil. Dukungan dari masyarakat dan tokoh adat berdatangan.
Tapi, ibarat pepatah semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpanya. Begitu pula perjuangan Aleta. Aparat keamanan di lokasi tambang mulai bertindak represif. Mereka tidak segan-segan melakukan kekerasan terhadap penentang penambangan. Bahkan, aparat mengancam bui kepada masyarakat setempat yang menolak penambangan.
Cara-cara kotor dan keji diterapkan aparat, terutama kepada Aleta. Sebab, Aleta dianggap sebagai motor penggerak warga setempat. Aparat mengeluarkan sayembara untuk Aleta. Barang siapa yang berhasil membunuhnya, akan mendapat uang Rp 750 ribu-Rp 1 juta.
Teror pun menjadi jamak bagi Aleta. Rumahnya kerap dilempari batu oleh orang tak dikenal. Bahkan dia pernah dikejar 14 orang sampai ke hutan. Kakinya pun menyisakan bekas perjuangan berupa luka tebasan parang.
Melihat situasi yang mulai berbahaya, Aleta mulai hidup dalam pelarian. Setelah sempat mengungsi di Kupang, dia bersembunyi di hutan selama enam bulan. Aleta saat itu sudah mempunyai tiga anak. Dalam pelarian, dia ditemani anak bungsunya, Ainina Sanam. Sementara, dua anak lainnya tinggal bersama suami Aleta, Lifsus Sanam. Beruntung Aleta memiliki suami Lifsus. “Saya mendukung perjuangan dia mencari keadilan,” kata Lifsus.
Meski harus bersembunyi lantaran diburu aparat setempat, Aleta tetap mencari akal untuk tetap berjuang. Taktik baru pun dilancarkan. Aleta menenun di celah-celah gunung batu yang hendak ditambang. Dia mengajak ibu rumah tangga lainnya dalam perjuangan tersebut. Dari pagi hingga sore mereka menenun.
Strategi perjuangan tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Langkah itu dilakukan sebagai pendidikan untuk menggambarkan pentingnya kelestarian hutan di sekitar lokasi tambang. Motif kain tenun yang mereka hasilkan bercerita tentang hubungan manusia dengan alam. Ternyata cara tersebut berhasil. Simpati warga sekitar semakin muncul. Ibu-ibu yang ikut aksi bertambah menjadi 60. “Semua ibu rumah tangga dari tiga suku ikut menenun,” kata Aleta.
Karena jumlah ibu-ibu yang menenun semakin bertambah, masyarakat mendirikan perumahan di sekitar lokasi tambang. “Kami juga menggelar ritual adat untuk memohon bantuan leluhur,” ujarnya. Aleta percaya, roh suku Mollo telah menolong perjuangan mereka.
Aksi menenun yang dilakukan di lokasi penambangan tersebut dilakukan selama setahun. Alhasil, kegiatan ini membuat dua perusahaan tambang urung melakukan eksplorasi di tempat tersebut. Mama Aleta berhasil menggunakan pendekatan nonkekerasan untuk membangkitkan kesadaran warga terhadap kelestarian alamnya sekaligus ‘menentang’ kegiatan eksploitasi alam.
Mencegah adanya penambangan lagi, warga tiga suku membangun rumah adat atau lopo di sekitar daerah tambang. Rumah-rumah itu akhirnya menjadi Kampung Nausus, 60 kilometer dari Kota So’e, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Perjuangan Aleta tidak hanya itu. Dia menggerakkan warga setempat untuk menghijaukan kembali kawasan hutan. Kegiatan menenun juga digiatkan oleh ibu-ibu di wilayah Mollo. Hasilnya dijual ke seluruh Indonesia.
Mulai 2010, Festival Ningkam Haumeni digelar setiap Mei dengan menampilkan kain-kain tenun para mama serta hasil kebun mereka. “Itu semua adalah cara mereka menunjukkan bahwa masyarakat adat di sana mampu hidup mandiri, berdampingan dengan alam,” kata Aleta.

Sumber :

https://astralife.co.id/ilovelife/mama-aleta-baun-pahlawan-lingkungan-yang-menjaga-bumi-ntt-lewat-kain-tenun/

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *