Potensi HHBK Limbah Daun Jati dalam Meningkatkan Kualitas Kesuburan Tanah

Posted on Posted in Kehutanan Umum

 

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) atau disebut juga hasil hutan non kayu (HHNK) merupakan hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan nya dan budidayanya kecuali kayu. Potensi hasil hutan bukan kayu ini sangat tinggi di negara indonesia itu sendiri. Hasil hutan bukan kayu yang sering di budidayakan yaitu kopal, resin, jernang, minyak tengkawang, minyak atsiri, serta hewan (kulit, daging), dan jasa lingkungan seperti tata air yang berasal dari hutan. Menurut ilmu ekonomi pengurusan hutan, jika kita mendirikan suatu hutan dan hanya mengambil kayunya saja itu akan bersifat mubazir karena masih banyak dari nilai hutan itu yang belum termanfaatkan seperti daun, cabang, buah, bahkan akar.

 

Sumberdaya hutan jati merupakan komoditas yang produk hasil olahan kayunya telah banyak dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia oleh karena itu kelestarian huatan harus dijaga karena hutan mempunyai fungsi sosial, ekonomi, dan pastinya lingkungan. Salah satu tujuan utama pengelolaan hutan adalah untuk memproduksi kayu secara lestari. Karakteristik pohon jati yang menggugurkan daunnya setiap musim kemarau memberikan sebuah masalah baru bagi masyarakat sekitar yang berdampak pada pencemaran lingkungan dan kebakaran hutan akibat banyaknya daun jati kering yang belum termanfaatkan. Seperti kasus kebakaran di hutan jati blora pada tanggal 21 september 2015 yang disebabkan oleh kebakaran secara alami akibat banyaknya serasah daun jati yang kering dan saling bergesekan sehingga menimbulkan sumber api.

Sebagian besar masyarkat di indonesia belum mengetahui potensi daun jati tersebut dan mereka lebih memilih membakar daun jati begitu saja.Berdasarkan kandungan kimianya daun jati mengandung kadar karbon terikat 48,51%, kadar air 6,61%, kadar abu 31,72%, kadar volatile 13,17%, dan kerapatan 0,65g/cm.Selain itu,daun jati juga mengandung senyawa flavanoid, kadar proteinnya rendah yaitu 4,9% dan sembilan senyawa asam fenolat atau tanin serta kandungan serat kasar yang diselimuti lignin yakni sebesar 22,9%.Berdasarkan komposisi kimia nya limbah daun jati tersebut berpotensi untuk diolah menjadi asap cair.

Asap cair merupakan cairan kondensat uap asap hasil pirolisis kayu,serbuk kayu,dan daun yang mengandung senyawa penyusun utama asam,fenol,dan karbonil sebagai hasil degradasi termal komponen selulosa,hemiselulosa,dan lignin.Asap cair diproduksi dengan cara pirolisis pembakaran tidak sempurna yang melibatkan reaksi dekomposisi konstituen polimer menjadi senyawa organik dengan berat molekul rendah karena pengaruh panas yang meliputi reaksi oksidasi, polimerisasi, dan kondensasi. Media pendingin yang digunakan pada kondensor adalah air yang dialirkan melalui pipa inlet yang keluar dari hasil pembakaran tidak sempurna kemudian dialirkan melewati kondensor dan dikondensasikan menjadi distilat asap. Asap cair diketahui mengandung senyawa asam asetat 43,02% dan phenol 36,22% yang dapat berfungsi mencegah tanaman terserang hama penyakit terutama jamur, ulat dan busuk akar baik pada tanaman pertanian, kehutanan dan perkebunan. Selain itu, abu daun jati memiliki banyak bahan nitrogen yang mampu meningkatkan ketersediaan unsur N di dalam tanah sehingga bisa dimanfaatkan oleh tanaman sebagai hara makro dalam proses pertumbuhan

              Penerapan teknologi penanganan limbah daun jati yaitu menjadi asap cair daun jati digunakan untuk memberikan nilai lebih terhadap fungsi dan market suatu produk.Penggunaan sumber pengganti N dengan limbah biomassa sektor kehutanan seperti serasah limbah daun jati diolah menjadi asap cair merupakan solusi alternatif yang dapat dilakukan. Dalam hal ini, pemupukan dengan asap cair menjadi salah satu alternatif agar tidak terjadi polusi bahan kimia dan dinilai cocok untuk dijadikan sebagai biopestisida. Biopestisida ini siap digunakan dalam memberantas hama untuk meningkatkan produktivitas suatu lahan pertanian.Selain itu,Asap cair ini dapat di promosikan dan dijual ke pasar bahkan ke pasar internasional dalam bentuk kemasan sehingga menimbulkan nilai lebih.Penjualan asap cair dalam suatu produk ini tentunya dapat menyebabkan terjadinya peningkatan lapangan pekerjaan sehingga taraf kehidupan dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.Kesimpulanya, banyak sekali potensi hutan masyarakat yang belum termanfaatkan saat ini ,seperti daun jati yang dapat diolah menjadi asap cair yang menjadi bahan alternatif biopestisida dalam peningkatan produktifitas lahan pertanian, kesuburan tanah, dan pembukaan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, dalam memanfaatkan hutan itu tidak harus kayunya saja namun disana lebih banyak potensi individu pohon selain kayu yang belum termanfaatkan secara optimal.

 

 

 

Penulis

Nama  : Bekti Kesuma Nandha

NIM    : E14150099

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *