Faculty of Forestry - Bogor Agricultural University

Eksplorasi HHBK Kampus IPB Bogor oleh KS Pemanfaatan FMSC

         Pemanfaatan-1Mingggu 8 Oktober 2017, himpunan mahasiswa Manajemen Hutan (Forest Management Students’ Club) yang tergabung dalam KS Pemanfaatan Sumberdaya Hutan melakukan eksplorasi HHBK di Arboretum Fakultas Kehutanan IPB. Sebanyak 20 orang mahasiswa mengikuti kegiatan eksplorasi HHBK ini. Tujuan dari eksplorasi HHBK itu sendiri adalah untuk memberikan informasi kepada mahasiswa Fakultas Kehutanan mengenai HHBK yang berada di Arboretum Fakultas Kehutanan IPB. Kegiatan ini diawali dengan membagi Arboretum Fakultas Kehutanan menjadi 4 petak. Dalam setiap petak terdapat minimal 4 orang yang bertugas mengukur diameter pohon, marking pohon pada GPS, dokumentasi, dan notulensi.

Pemanfaatan-2      Sebagai informasi, HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani  beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Pengambilan hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan kegiatan dari masyarakat yang berada di sekitar hutan yang dilakukan secara tradisional. Di beberapa tempat di Indonesia, kegiatan pengambilan hasil hutan bukan kayu merupakan kegiatan utama sumber mata pencaharian masyarakat, sebagai contoh: pengumpulan rotan dan pengumpulan berbagai getah kayu agathis atau shorea.

       Pada kesempatan ini, mahasiswa Manajemen Hutan yang tergabung dalam KS Pemanfaatan Sumberdaya Hutan memilih pohon pinus dan meranti untuk dieksplorasi. Kedua jenis pohon ini banyak ditemukan di Arboretum Fakultas Kehutanan IPB. Pohon pinus dengan nama latin Pinus merkusii ditemukan sebanyak tujuh pohon. Sedangkan meranti (Shorea sp.) ditemukan sebanyak 26 pohon. Pohon pinus dimanfaatkan getahya untuk dijadikan resin dan hasil akhirnya berupa gondorukem serta terpentin. Selain pohon pinus, pohon meranti juga disadap getahnya, masyarakat Indonesia biasa menyebutnya damar.

Pemanfaatan-3         Dengan kelimpahan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia, potensi HHBK di Indonesia memiliki potensi yang begitu besar. Tak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini produksi kayu semakin menurun. Oleh karena itu, sektor HHBK semakin berkembang dan diperkirakan akan terus meningkat produksinya. Potensi HHBK pinus dan meranti sebagai penghasil getah yang terdapat di Indonesia tergolong baik. Hal tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan HHBK untuk keperluan ekspor oleh produsen Indonesia.

         Setelah mengambil data HHBK di Arboretum Fakultas Kehutanan, tim eksplorasi melaksanakan makan siang bersama. Dengan menyajikan makan siang di atas daun pisang atau lebih dikenal dengan istilah ngaliwet, momen ini bertujuan untuk kian meningkatkan kekompakan, kebersamaan, dan tetap menjunjung tinggi niai korsa. Semoga kegiatan ini bisa menjadi semangat untuk terus mengembangkan potensi HHBK di Inondesia menjadi lebih baik. Hidup Rimbawan! (Kartika D-Manajemen Hutan 52)

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *