Faculty of Forestry - Bogor Agricultural University

Siapa Bilang Rimbawati Tidak Berperan dalam Pembangunan Kehutanan?

Pria dan wanita seperti yang kita ketahui selama ini memiliki perbedaan peran dan tanggung jawab yang berbeda dalam kehidupan. Walaupun emansipasi wanita sampai saat ini sudah sering dibicarakan, namun pada bidang tertentu peran wanita masih merupakan minoritas, seperti halnya pada bidang kehutanan. Proyek-proyek pembangunan di bidang kehutanan umumnya masih didominasi oleh pria. Namun hal tersebut tidak berarti wanita tidak turut berpartisipasi dalam pembangunan, khususnya bidang kehutanan. Jadi bagaimanakah sebenarnya peran wanita dalam pembangunan bidang kehutanan?

Salah satu program pemerintah di bidang kehutanan yang bertujuan mengurangi kemiskinan dan melindungi kelestarian lingkungan adalah kehutanan sosial. Program ini sangat erat kaitannya dengan peran wanita. Mengapa? Karena jumlah wanita di dunia, khususnya di Indonesia cukup dominan sehingga kelestarian lingkungan dan hutan sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat di sekitarnya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang peran wanita, sudahkah Anda tahu apa itu kehutanan sosial? Kehutanan sosial merupakan pengelolaan hutan sebagai sumberdaya (forest resource management/FRM) dan ekosistem (forest ecosystem management/FEM). Oleh karena itu, pengelolaan hutan tidak hanya mempertimbangkan apa yang akan dihasilkan oleh hutan tersebut, melainkan juga memperhatikan bagaimana pengaruh pengelolaan hutan terhadap aspek lainnya yang mempengaruhi kesatuan ekosistem.

Hutan sebagai suatu kesatuan dari ekosistem tentu saja melibatkan berbagai aspek di sekitarnya, termasuk pengelolaan manusia. Pengelolaan hutan yang lestari dapat tercapai ketika pengelolaan manusianya sudah baik pula. Disinilah peran wanita sangat berarti. Beberapa tulisan menjelaskan wanita cenderung memiliki kemampuan mempengaruhi yang lebih tinggi dibandingkan pria, sehingga dengan kemampuannya ini wanita seharusnya mampu mengajak orang-orang di sekitarnya untuk lebih peduli lagi terhadap lingkungan sekitar. Dimulai dari hal kecil (seperti tidak membuang sampah di sembarang tempat), hal ini akan menjadi langkah awal dalam mencapai pengelolaan hutan secara lestari.

Wanita juga dapat berperan sebagai agen pelopornya ataupun agen distributor untuk menjelaskan pentingnya menjaga eksistensi dunia kehutanan. Masyarakat perlu ditanamkan bagaimana masyarakat sekitar hutan tersebut merasa bahwa sumber kehidupan dan ekonominya berasal dari pengelolaan hutan yang lestari. Jika kesadaran masyarakat akan kebutuhan mereka terhadap hutan sudah ada, eksistensi hutan dapat meningkat, dan misi pengelolaan hutan serta lingkungan yang lestari pun dapat tercapai. Secara tidak langsung, hal ini juga dapat mengurangi kemiskinan di Indonesia.

Namun tidak hanya masyarakat di sekitar hutan saja yang dapat berperan dalam pembangunan bidang kehutanan. Sebagai mahasiswi kehutanan, saat ini para rimbawati berarti juga sedang berjuang mempersiapkan bekal dalam mengajak lebih banyak lagi masyarakat luas baik di bidang kehutanan ataupun tidak untuk bersama-sama mewujudkan pembangunan yang nyata bagi Indonesia. Jadi masihkah kalian berpikir wanita itu tidak dapat berperan dalam pembangunan kehutanan? Ternyata peran wanita tidak kalah hebat bukan dalam pembangunan di bidang kehutanan? Nah, sekarang mari kita sama-sama bangun kehutanan di Indonesia agar terwujud pengelolaan yang lestari! (A.H.)

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *