Faculty of Forestry - Bogor Agricultural University

Diadakanya Perdagangan Karbon (Carbon Trade) Secara Global, Menguntungkan atau Merugikan ?

Perdagangan karbon (Carbon trade) merupakan suatu mekanisme berbasis pasar untuk mengurangi kenaikan CO2 yang ada di atmosfer. Dalam proses perdagangan terdapat istilah penjual dan pembeli. Adapun penjual karbon, yaitu pemilik yang mengelola hutan dan dapat menjual karbon berdasarkan jumlah karbon yang terkandung di dalam pohon-pohon yang berada di hutan karena pohon berperan sebagai penyerap karbon sedangkan pembeli karbon adalah pemilik industri yang menghasilkan CO2 ke atmosfer dan diharuskan untuk menyeimbangkan emisi yang mereka keluarkan. Dapat dikatakan juga bahwa negara-negara industri dan negara-negara penghasil polutan terbesar (AS dan Eropa) diberi kesempatan untuk melakukan kompensasi atau memberikan insentif dengan cara membayar negara-negara berkembang salah satunya Indonesia untuk mencadangkan hutan tropis yang dimilikinya.

carbon tradeIstilah perdagangan karbon muncul karena adanya isu Pemanasan Global (Global Warming) yang merupakan proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi sebagai akibat dari naiknya konsentrasi gas-gas rumah kaca salah satunya CO2. Kenaikan konsentrasi gas rumah kaca tersebut terjadi akibat oleh aktivitas manusia. Dampak dari meningkatnya suhu global ini di antaranya tentang mencairnya salju di kutub bumi, peralihan cuaca dan musim yang tidak menentu, peningkatan tinggi muka air laut (mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil) dan peningkatan suhu air laut. Oleh karena itu, diadakanlah konferensi Protokol Kyoto, yaitu perjanjian internasional yang dimaksudkan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri dunia dan menekan emisi CO2 rata-rata 5,2 persen selama 2008 hingga 2012 melalui mekanisme perdagangan karbon.
Indonesia memiliki peluang sebagai negara penjual karbon dengan mekanisme perdagangan karbon karena Indonesia memiliki potensi kawasan hutan yang sangat luas dapat mendatangkan manfaat ekologi dan ekonomi sekaligus bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar hutan. Sesuai kesepakatan awal bahwa perdagangan karbon hanya bisa melibatkan pohon yang bukan dari hutan alam dan bukan hutan/pohon yang dikembangkan sebelum tahun 1990, justru dapat memotivasi masyarakat Indonesia untuk lebih banyak menanam pohon. Dengan tumbuhnya kesadaran tersebut akan diperoleh  keuntungan secara ekologis di antaranya untuk kelestarian hutan dan lingkungan hidup yang pada umumnya akan dapat terjaga dengan baik, program penghijauan hutan dan lahan akan berjalan lancar, kerusakan hutan akibat penebangan liar akan dapat ditekan dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga hutannnya. Keuntungan dari segi ekonomi, antara lain meningkatan pendapatan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan penanaman dan pemeliharaan serta peningkatan pendapatan melalui pemanfaatan jasa lingkungan kawasan hutan sebagai kawasan wisata alam.

Namun, mekanisme perdagangan karbon ini dianggap sebagai bentuk pengekangan negara-negara maju dimana negara-negara berkembang hanya menjaga hutannya dan tidak bisa membangun industri-industri yang mengeluarkan emisi karena karbon mereka telah dibeli oleh negara maju dan itu membuat ketergantungan industri terhadap negara maju.  Oleh karena itu, dalam mekanisme ini haruslah dituangkan dalam bentuk kesepakatan atau tuntutan bersama dan bukan diserahkan pada mekanisme pasar bebas. Selain itu, perlu adanya standarisasi nilai pertukaran karbon, sosialisasi kepada masyarakat, penguatan kelembagaan misalnya melalui pembentukan Kawasan Pengelolaan Hutan, penguatan posisi tawar secara politik negara-negara penjual karbon yang pada umumnya adalah negara-negara berkembang, kesiapan sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang dapat diandalkan untuk penilaian total karbon dan adanya lembaga pengawas yang dapat menjamin perdagangan karbon berlangsung secara adil dan dapat menyelesaikan masalah jika muncul persengketaan.

 

Ditulis Oleh : Narsiki (MNH 50), Annisa Choernita (MNH 50), &  Halfi Siregar (MNH 50)

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *