Faculty of Forestry - Bogor Agricultural University

Kelompok Studi Perencanan FMSC Fakultas Kehutanan IPB Lakukan Pemetaan Wilayah dan Pengukuran Sumber Mata Air di Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai

jalan

Ecological Social Mapping (ESM) merupakan kegiatan pemetaan social yang merupakan salah satu kegiatan aplikatif dari Himpunan Profesi Forest Management Students’ Club, Departemen Manjemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB melalui empat kelompok studinya. Salah satu kelompok studi yang berperan dalam kegiatan ESM tersebut adalah Kelompok Studi Perencanaan. ESM 2015 dilakukan di Desa Seda, Kecamatan Mandiracan, Kabupaten Kuningan dari tanggal 27 Juni sampai dengan tanggal 4 Juli 2015. Wilayah desa tersebut berada tepat di kaki gunung Ciremai dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Ciremai sehingga informasi terkait tapal batas antara wilayah desa dengan kawasan Taman Nasional menjadi sangat penting. Kelompok Studi Perencanaan melakukan tiga kegiatan utama yaitu pemetaan batas pemukiman, pengukuran lokasi sumber mata air, dan pembuatan transek social. Tim KS Perencaan dibagi menjadi tiga sub tim yaitu sub tim pengukur batas pemukiman, sub tim pengukur lokasi sumber mata air, dan sub tim pembuatan transek social.

Pengambilan data dimulai pada tanggal 28 Juni 2015 yaitu dengan melakukan pengukuran luas wilayah pemukiman. Pengukuran dilakukan dari pintu gerbang Desa seda kemudian berjalan mengelilingi pemukiman warga hingga kembali ke pintu gerbang desa kembali. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan GPS Garmin 60 CSx yang merekam setiap route yang dilalui oleh tim pengukur batas pemukiman. Selain itu untuk menambah ketelitian hasil pengukuran dan sebagai data backupan tim pengukur batas pemukiman melakukan marking setiap jarak 10 m sepanjang route yang dilalui. Pengukuran batas pemukiman dilakukan oleh tiga orang anggota KS Perencaan dan satu orang warga Desa Seda yang mengetahui secara pasti batas-batas pemukiman warga Desa Seda. Hasil pengukuran batas pemukiman menunjukan bahwa luas pemukiman desa seda adalah 27,19 Ha dengan kondisi pemukiman yang mengumpul di desikat balai desa. Pada hari yang sama Tim pengukur sumber mata air beserta anggota Kelompok Studi Hidrologi melakukan penjajakan awal untuk mencari informasi tentang sumber mata air yang ada di sekitar Desa Seda. Dari hasil penjajakan terdapat tiga sumber mata air utama yang memiliki peran penting menyuplai air bersih bagi masyarakat Desa Seda yaitu Mata air caiyakan, Mata air cibulak kidul/Ciwangun, dan mata air Cigorowong. Selain tiga sumber mata air tersebut terdapat satu sumber mata air tetapi alirannya tidak mengarah ke Desa Seda namun memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan oleh warga Desa Seda, yaitu Mata Air Cigedong yang memiliki ketinggian 3780 ft.

Pada tanggal 29 Juni 2015 sub tim pengukuran sumber mata air melakukan pengambilan data bersama dengan KS Hidrologi. Pengambilan data dilakukan di empat titik sumber mata air yaitu mata air Ciayakan, mata air Cigorowong, mata air Ciwangun, dan mata air Cigedong. Seluruh lokasi pengambilan data berada di dalam kawasan Taman Nasional. Pengukuran jarak sumber mata air dilakukan dari balaidesa Seda sebagai patokan. Sumber mata air terdekat adalah mata air Ciayakan yaitu 1,84 km dan sumber mata air yang paling jauh adalah Cigedong yaitu 6,4 km dari balaidesa Seda. Dari hasil pengukuran keempat sumber mata air tersebut diperoleh informasi koordinat, ketinggian dari permukaan laut, dan jarak dari titik ikat.

Pada hari selanjutnya Tim pembuat transek social melakukan pengambilan data yang dimulai dari titik tertinggi batas desa yang berada di perbatasan antara Desa Seda dengan Taman Naisonal. Patokan/titik ikat yang digunakan dalam pengukuran jarak transek adalah Pal batas taman nasional yang berada pada ketinggian 2570,84 mdpl. Tim pembuat transek social kemudian berjalan menyusuri wilayah Desa Seda bersama dengan KS Sosial Ekonomi untuk mengamati potensi pemanfaatan berdasarkan ketinggian tempat. Batas pembuatan transek berada di sungai Cikotok dengan ketinggian 1269,07 mdpl.

Seluruh data yang diperoleh kemudian di input dan diolah menggunakan software Garmin BaseCamp, MapSource, dan ArcGis 10.3 sehingga diperoleh gambran umum tentang kondisi pemukiman Desa Seda, lokasi sumber mata air, dan potensi tempat berdasarkan ketinggian. Data tersebut kemudian dipresentasikan pada tanggal 2 Juli 2015 di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai sebagai bentuk laporan awal dari hasil pengambilan data, selian itu hasil yang diperoleh juga dipresentasikan ke pihak Desa Seda pada tanggal 3 Juli 2015. Output dari KS Perencanaan pada kegiatan ESM 2015 adalah peta batas pemukiman dan peta lokasi sumber mata air sebagai upaya untuk pembaruan informasi wilayah desa Seda yang akan di berikan kepada Balai Taman Nasional dan Desa Seda sebagai salah satu desa Penyangga Tamana Nasional Gunung Ciremai (Sardianto MNH 49).

Dokumentasi

Sardianto

Gb 1.Pengukuran Lapang

ukur

Gb 2.Pengukuran Pal Batas

jalan

Gb 3. Tracking Area Hutan

ukur2

Gb 4.Tracking Area Desa

Share

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *